Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 01 Mei 2012

“Pengembangan Profesi Keguruan”


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang

Sejatinya manusia dilahirkan ke bumi nan fana ini hanyalah untuk berjalan. Ia akan melangkah kedepan, menuju tujuan yang harus dipilihnya. begitu banyak dan beragam pilihan hidup yang harus di tempuh oleh setiap insan dalam setiap kehidupan ini.
Apa yang di bangun hari ini baru terasa satu decade kemudian.  Ketika malasyia sejak tahun 70-an menempatkan pengembangan praksis pendidikan termasuk penyediaan 25 % anggaran nasional, di antaranya mengirimkan guru-guru  untuk belajar ke Indonesia, Negara itu saat ini  tidak lagi menjadi pesaing Indonesia. Dia jauh melejit dan berbalik dan menjadi tempat belajar bagi Indonesia. Pesaing Indonesia tidak lagi malesyia, Thailand, singapura. Pesaing Indonesia dihari ini adalah Myanmar, srilanka, bahkan kita harus angkat topi pada Vietnam yang sudah lebih maju dalam pengembangan pendidikan dasar di banding Indonesia(Erman suparno,2008, sambutan dalam buku landasan dan arah pendidikan kita).
            Upaya menuju  bangsa Indonesia yang mandiri dan berdaya saing tinggi tidak dapat dilepaskan keterkaitannya dengan program pendidikan nasional. Ini di sebabkan tenaga utama penggerak pendidikan nasional adalah produk pendidikan.  Program pendidikan yang dapat menghasilkan sumber daya manusia, pembangunan harus di agendakan secara tepat jalur dan menjadi prioritas dalam program pembangunan nasional.
Sebagaimana yang kita ketehui, bangsa ini adalah bangsa yang besar, penduduknya masuk dalam lima terbesar didunia,serta kekayaan alamnya yang melimpah. Tetapi pertanyaanya adalah, kenapa masih banyak orang miskin, pengangguran, termasuk jutaan pengangguran terdidik, bahkan sarjana?
Lawrence E, setelah melakukan beberapa studi empiris di berbagaii Negara, menyimpulkan bahwa kunci kemajuan suatu bangsa bukanlah kekayaan sumber daya alamnya, tapi sumber daya manusianya. Juga bukan di tentukan oleh system politiknya, tetapi di tentukan oleh nilai budaya dan perilaku serta karakter positifnya.
Realitas yang di tunjukan Lawrence itu memperlihatkan betapa peran guru sangat dominan untuk melakukan peubahan kepada anak didik, agar mereka kelak memiliki radius of trush antara mereka.
            Menghadapi pesatnya persaingan pendidikan di era global ini, semua pihak perlu menyamakan pemikiran dan sikap untuk mengedepankan peningkatan mutu pendidikan. Pihak-pihak yang ikut meningkatkan mutu pendidikan adalah pemerintah, masyarakat, stake holder, kalangan pendidik serta semua sub sistem bidang pendidikan yang harus berpartisipasi mengejar ketertinggalan maupun meningkatkan prestasi yang telah diraih. Dari pihak yang disebutkan di atas, dalam pembahasan tulisan ini yang disoroti hanya masalah “guru”, sebab ”guru menjadi fokus utama dari kritik-kritik atas ketidak beresan sistem juga menjadi sosok yang paling diharapkan dapat mereformasi tataran pendidikan. Guru menjadi mata rantai terpenting yang menghubungkan antara pengajaran dengan harapan akan masa depan pendidikan di sekolah yang lebih baik.
            Pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada kapasitas satuan-satuan pendidikan dalam mentranformasikan peserta didik untuk memperoleh nilai tambah, baik yang terkait dengan aspek olah pikir, rasa, hati, dan raganya. Dari sekian banyak komponen pendidikan, guru dan dosen merupakan faktor yang sangat penting dan strategis dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan di setiap satuan pendidikan. Berapapun besarnya investasi yang ditanamkan untuk memperbaiki mutu pendidikan, tanpa kehadiran guru dan dosen yang kompeten, profesional, bermartabat, dan sejahtera dapat dipastikan tidak akan tercapai tujuan yang diharapkan [UU No.14Thn 2005:2]

Maka upaya peningkatan kapasitas guru wajib dilakukan, berdasarkan fakta diatas, untuk itu kami menulis makalah ini dengan judul “Pengembangan Profesi Keguruan


B.   Rumusan Masalah

Dalam pembuatan makalah kali ini penulis merumuskan masalah- masalah sbb:
1.    Bagaimana Landasan hukum tentang guru dalam perundang-undangan?
2.    Bagaimana pendidikan profesional tenaga pendidik?
3.    Bagaimana kompetensi dasar tenaga pendidik?




C.   Tujuan
            Adapun tujuan dari makala ini adalah sebagai berukut:
1.    Mahasiswa dapat mengetahui landasan hukum tentang guru dalam perundang-undangan.
2.    Mahasiswa dapat mengetahui criteria guru professional,
3.    Mahasiswa dapat mengetahui kompetensi dasar tenaga pendidik,
4.    Sebagai reverensi untuk mahasiswa dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pendidikan Profesional Tenaga Pendidik

1.    Landasan Hukum Tentang Ke Pendidikan
Dalam rangka pembangunan  pendidikan nasional dalam era reformasi telah di tetapkan sejumlah undang-undang yang terkait dengan pendidikan, diantaranya adalah UU Nomor 20 th 2003 tentang system pendidikan nasional, UU no 14 th 2005 tentang guru dan dosen (yang menjadi landasan untuk meningkatkan kualitasdan kesejahteraan guru dan dosen), UU No 9 th 2009 tentang badan hukum pendididkan, dan RUU tentang Perguruan Tinggi yang masih di rapatkan oleh dewan.

2.    Pengertian Profesionalisme
            “Professional berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim, dan sebagainya”( Usman, 1995: 14). Dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak memperoleh pekerjaan lain  (Sudjana,1988: 14).
            Setiap guru yang profesional mengetahui pengalaman yang mendalam dalam spesialisnya. Pengetahuan ini meerupakan syarat yang penting  disamping keterampilan-keterampilan lain. Guru professional selain menguasai seluk-beluk pendidikan dan pengajaran serta ilmu-ilmu lainya, guru juga di bekali pendidikan  khusus untuk menjadi guru dan memiliki keahlian khusus yang diperlukan sesuai dengan profesinya.
            Pekerjaan guru adalah suatu profesi tersendiri, pekerjaan ini tidak dapat dilakukan oleh  sembarang orang tanpa memiliki keahian sebagai seorang guru. Pandai yang pandai berbicara tertentu namun orang tertentu belum  dapat di sebut sebagai seorang guru (Hamalik, 2005: 118-119).
              Menurut Sudjana(2008: 13) pekerjaan yang bersifat profesional  adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang secara khusus disiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang silakukan oleh mereka yang karena tidak memiliki pekerjaan lainnya.


3.    Guru Profesional
Devinisi yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari adalah, bahwa guru adalah orang yang harus digugu dan ditiru. Dalam arti orang yang memilii wibawa,charisma hingga perlu untuk ditiru dan di teladani.
“guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah.”(pasal (1) ayat (1) UU RI No. 14 thn 2005 tentang guru dan dosen)
            Guru  adalah “orang yang memberikan ilmu pengetahuan teerhadap anak didik, jadi seorang guru yang mengabdikan diri kepada masyarakat dan tentunya guru memiliki tanggung jawab dan melaksanakan proses belajar mengajar di tempat- tempat tertentu tidak mesti di lembaga formal tetapi bisa juga dimasjid, surau musollah, di rumah dan sebagainya
( Djamarah, 2007: 31).
            Drajat (sagala, 2009: 21) menyebutkan tidak sembarang orang dapat melakukan tugas guru. Tetapi orang-orang tertentu yang memenuhi persyaraatan yang di pandang mampu yakni:
a.   Takwa kepada allah swt
b.   Berilmu
c.    Berkelakuan baik
d.   Sehat jasmani
Sedangkan menurut sidi( kunandar, 2009:50) persyaratan minimal yang harus dimilki oleh guru professional antaara lain:
1.    Memilki kualifikasi pendidikan profesi yang memadai;
2.    Memiliki kompetensi ke ilmuan sesuai ddengan bidang yang ditekuninya;
3.    Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anak didiknya;
4.    Mempunyai jiwa kreatifitas dan produktif;
5.    Mempunyai etos kerja dan koitmen tinggi terhadap profesinya, dan
6.    Selalu melakuakan pengembangan diri secara terus-menerus (continuous improvement) melalui organisasi profesi, internet, buku, seminar, dan semacamnya.
Sedangkan berdasarkan pasal 8 UU RI No 14 thn 2005 tentang guru dan dosen(zainal aqib 2009:26) menyatakan:
“guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompeteensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan pendidikan nasional.

            Budi pekerti  guru penting dalam pendidikan watak anak didik, guru harus menjadi tauladan bagi siswa didiknya karena anak-anak cenderung bersifat meniru (Djamarah, 2007: 32)

            Dari persyaratan diatas menunjukan bahwa guru sebagai pendidik professional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukan kepada masyarakat bahwa guru layak menjadi  panutan atau tauladan bagi masyarakat disekelilingnya (Soejipto, 2002: 42).

            Jadi seorang guru adalah  orang yang benar-benar terdidik  dan terlatih dengan baik. Serta memilki pengalaman yang kaya di bidangnya masing-masing.  Terdidik dan terlatih disini bukan hanya memperoleh pendidikan formal tetapi juga arus menguasai berbagai strategi atau teknik didalam kegiatan belajar nmengajar serta menguasai landasan-landasan yang tentunya juga akan memenuhi beberapa persyaratan atau kriteria sehingga dikatakan benar-benar terdidik dan terlatih.
Menurut ( Djamarah, 2002: 36) sesungguhnya guru yang bertanggung jawab memiliki beberapa  sifat yakni:
1.  Menerima dan mematuhi norma-norma dan nilai-nilai kemanusiaan.
2. Memiliki tugas mendidik dengan bebas, berani, dan gembira(tugas bukan menjadi beban baginya).
3. Sadaar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatanya serta akibat–akibat yang timbul dari hatinya.
4.  Menghargai  orang lain termasuk anak didik
5.  Bijaksana dan hati-hati (tidak nekat, sombong, dan tidak singkat akal).
6.  Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

            Berdasarkan beberapa pendapat diatas, maka yang di maksud dengan guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang ke guruan sehingga ia mampu melaksanakn tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan yang maksimal (Usman, 1999: 15).
4.  Kompetensi Guru
            (PP. No. 19 th 2005 pasal 28:1), Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
            Guru professional pada intinya adalah guru yang meiliki kompetensi yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Menurut  pasal 1 ayat 10 UU RI No 14 thn 2005 tentang guru dan dosen. (zainal aqib, 2009:24) “menjelaskan kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan perilaku, yang harus dimiliki, di hayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.”

            Ibid (hamzah, 2010: 64) mengungkapkan
“kompetensi guru adalah salah satu factor yang mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran dan pendidikan disekolah, namun kompetensi guru tidak berdiri sendiri. Tetapi di pengaruhi oleh factor latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, dan lamanya mengajar. Kompetensi guru dinilai penting sebagai alat seleksi dalam penerimaan calon guru, juga dapat di jadikan sebagai pedoman dalam rangka pembinaan dan pengembangan tenaga guru. Selain itu, juga penting dalam hubunganya dengan kegiatan belajar mengajar dan hasil belajar siswa.

            Mengutip direktorat etenaga kependidikan depdiknas (kunandar,2009: 56) yang menyatakan bahwa “standar kompetensi guru meliputi empat komponen yaitu (1) pengelolaan pembelajaran, (2) pengembangan potensi, (3)penguasaan akademik, (4) sikap kepribadian.

            (Zainal aqib, 2009: 74) menyatakan bahwa kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:
a.    Kompetensi pedagogic;
b.    Kompetensi kepribadian
c.    Kompetensi professional; dan
d.    Kompetensi social.

            Tugas guru merupakan pekerjaan yang cukup berat dan mulia, karena selain memperoleh amanah dan limpahan tugas dari masyarakat dan orang tua murid, guru juga harus memiliki kemampuan untuk mentransfer pengetahuan dan kebudayaan, keterampilan menjalani kehidupan (life skills) nilai-nilai (value) dan beliefs. Dari life skills, guru diharapkan dapat menciptakan suatu kondisi proses pembelajaran yang didasarkan pada leaning competency, sehingga outputnya jelas. Guru dituntut memiliki kompetensi bidang keilmuan dan kompetensi bidang keguruan. Guru dituntut meningkatan kinerjanya (performance), meningkatkan kemampuan, wawasan, serta kreativitasnya.
Bagaimana guru ideal yang dibutuhkan untuk mencapai kualitas pendidikan? Kata kuncinya, adalah guru harus diajak berubah dengan dilatih terus menerus. Guru harus terus ditingkatkan sensifitasnya dan kreatifitasnya. Kemampuan guru mengembangkan kepekaan pedagogisnya untuk kepentingan pembelajaran dan kualitas pendidikan. Guru harus benar-benar kompeten pada bidangnya dan memiliki komitmen tinggi pada profesinya. Kompetensi guru yang dibicarakan sebenarnya merupakan tindak lanjut dari falsafah dan prinsip pendidikan yang dikemukakan Ki Hajar Dewantoro, yang mencakup Tut Wuri Handayani (dibelakang memberi dorongan), Ing Madyo Mangun Karso (di tengah membangun prakarsa), dan Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan meberi keteladanan).

5.   Tujuan dan Sasaran Sertifikasi Guru
            Langkah dan tujuan melakukan sertifikasi guru adalah untuk meningkat kualitas guru sesuai dengan kompetensi keguruannya. Dalam UU guru ada beberapa hal yang dapat dikelompokan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas atau mutu guru antara lain:
1.     sertifikasi guru,
2.     pembaharuan sertifikat,
3.     beberapa fasilitas untuk memajukan  diri,
4.    sarjana nonpendidikan

            Dari hasil riset lapangan, banyak guru mengatakan bahwa sertifikasi profesi guru sangat baik dan dapat mengangkat derajat dan wibawa para guru di Indonesia. Tetapi, dalam penerapannya ada hal yang perlu diperhatikan yaitu :
a.    kebanyakan guru di Indonesia setelah menjadi pengajar tidak memperdalam pengetahuannya. Artinya, banyak guru kita masih rendah dalam kompetensi pengajaran,
b.    harus dipertimbangkan model yang bagaimana yang tepat untuk guru-guru di Indonesia, dan kesiapan para guru untuk disertifikasi,,
c.    perlu dilakukan pelatihan-pelatihan sebelum sertifikasi dilaksanakan dan perlu dipikirkan tindak lanjut bagi guru yang tidak lolos sertifikasi,
d.    apabila kebijakan sertifikasi tersebut dilakukan secara ”mentah” dan ”instan”, tanpa sosialisasi dan pelatihan-pelatihan akan merugikan para guru yang sudah cukup lama mengabdi.
            Mengenai sasaran sertifikasi guru, dilaksanakan untuk semua guru, baik guru lama maupun calon guru. Bagi guru yang lama perlu diberikan pelatihan-petihan profesi keguruan baru dilakukan ujian sertifikasi. Bagi calon guru yang berkualifikasi Sarjana kependidikan perlu mengikuti program sertifikasi gurudengan menempuh beberapa mata kuliah dalam kurikulum S1 kependidikan atau yang SKS-nya belum setara dengan kurikulum program sertifikasi. Sedangkan bagi calon guru yang berkualifikasi sarjana atau Diploma non-kependidikan wajib menempuh program sertifikat guru dengan mengambil seluruh kurikulum program sertifikat guru.
            Agar sertifikasi itu sungguh bermutu, ujian profesi keguruan harus objektif, bebas dari ”kkn”, dan ”suap”. Katakan saja, bila guru dan calon guru dalam ujian sertifikasi memang terbukti tidak kompetens dan tidak lulus, tidak mendapatkan sertifikat (Paul Suparno, KR:15/11/2005:10). Kemudian guru tersebut, ”diparkirkan” atau diistirahatkan sementara untuk mengikuti pelatihan kompetensi keguruan dan kemudian diuji kembali. Dengan demikian, keobjektifan dalam penilaian sangat penting, sehingga tidak terjadi orang mendapatkan sertifikat dengan cara membeli, koneksi atau ”koncoisme”. ”Bila hal ini terjadi, maka mutu guru tetap tidak terjamin dan pendidikan tetap terpuruk” (Paul Suparno, KR:15/11/2005:10)
            Selain itu, agar sertifikasi itu sungguh menunjukkan kemampuan dan keterampilan guru dalam mengajar dengan segala kompetensi yang dimiliki. ”Badan sertifikasi” guru sungguh harus objektif untuk menguji dan menilai sertifikasi guru. Tapi pertanyaan mendasar yang dikemukakan Paul Suparno di atas, apakah badan tersebut benar-benar ”objektif” untuk menguji kompetensi dan sertifikasi. Pertanyaan, lembaga mana yang dapat ditunjuk secara ”objektif” untuk diberikan kualifikasi melakukan sertifikasi dan uji kompetensi guru? Maka, untuk menguji kompetensi dan sertifikasi, diperlukan suatu ”lembaga” atau ”badan independen” yang akan menilai kompetensi guru.
            Aspek sertifikasi guru yang akan diuji adalah mengacu pada kompetensi dasar yang harus dimiliki guru, yaitu kompetensi profesional, persolan, kepribadian, dan sosial.
1.    kompetensi profesional, aspek pada kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan mengajar, meliputi kemampuan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, kemampuan dalam menganalisis, penyusunan program perbaikan dan pengayaan, kemampuan dalam membimbing dan konseling. Kemampuan dalam bidang keilmuan, terkait dengan keluasan dan kedalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan ditransformasikan kepada peserta didik, pemahaman terhadap wawasan pendidikan, dan kemampuan memahami kebijakan-kebijakan pendidikan.
2.    kompetensi persolan, aspek pada kompetensi ini berkaitan dengan aktualisasi diri dan menekuni profesi, jujur, beriman, bermoral, peka, luwes, humanis, berwawasan luas, berpikir kreatif, kritis, refletif, mau belajar sepanjang hayat.
3.    kompetensi kepribadian, aspek pada kompetensi ini berkait dengan kondisi guru sebagai individu yang kepribadian yang utuh, mantap, dewasa, berwibawa, berbudi luhur dan anggun moral, serta penuh keteladanan. Keempat, kompetensi sosial, aspek pada kompetensi ini berkait dengan kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efesien dengan peserta didik, sesama pendidik dan tenaga kependidikan, kemampuan menyelesaikan masalah, dan mengabdi pada kepentingan masyarakat.

            Proses sertifikasi para guru sebaiknya ditangani oleh lembaga atau badan independen yang kompetensi dan objektif. Katakan saja, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang merupakan lembaga pendidikan tinggi yang mengembangkan ilmu pendidikan dan keguruan, memiliki kewenangan dan pengalaman pengadaan tenaga kependidikan, serta memiliki sumber daya manusia yang kompeten di bidang kependidikan dan nonkependidikan. Lembaga tersebut harus didukung dengan berbagai sarana kependidikan, seperti Sekolah Laboratorium, Pusat Sumber Belajar, Praktek Pengalaman Lapangan, dan Pusat Penelitian Kependidikan.
            Agar sertifikasi itu dapat menunjukkan kemampuan dan keterampilan guru dalam mengajar, maka uji kompetensi dan sertifikasi harus dilakukan secara ”by proses”. Artinya, bagi para guru yang berasal dari ”fakultas keguruan” sebelum diuji perlu disegarkan kembali pada aspek ”materi keilmuan”, ”keterampilan dan strategi mengajar”. Sedangkan bagi guru-guru yang berasal dari non kependiddikan, sebelum uji kompetensi dan sertifikasi, perlu dilakukan pelatihan atau mengambil pendidikan profesi keguruan dengan bobot sejumlah 36 – 40 sks. Aspek materi keguruan, yang dipelajari : Ilmu Pendidikan atau Landasan Pendidikan, Metode dan Strategi Pembelajaran, Psikologi Perkembanagan, Perencanaan Pembelajaran, Evaluasi Pembelajaran, Psikologi Belajar, Media Pembelajaran, Bimbingan dan Konseling, Komunikasi Pendidikan, Profesi Keguruan, Telaah Pengembangan Kurikulum, Penelitian dan Evalusi Sistem Pendidikan, serta Praktek Pengenalan Lapangan (PPL) Setelah itu baru dilakukan uji profesi atau kompetensi dan sertifikasi. Apabila proses ini dilakukan secara terencana, sistimatik, dan objektif, serta terhindar atau bebas dari KKN, ”suap” atau dengan cara ”membeli sertifkat”, maka mutu keilmuan guru dikemudian hari akan meningkat dan kualitas dan kompetsnsi guru dapat dipertanggung jawabkan.







BAB III
IMPLIKASI GURU DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN

A.   Pilar Proses Pembelajaran
            Dalam pelaksanannya, proses pembelajaran merupakan usaha sadar terencana oleh pendidik agar peserta didik mencapai tujuan pendidikan. Proses pembelajaran yang berciri tiga dimensi yakni hakikat manusia, dimensi kemanusiaan,panca daya. Namun memerlukan perangkat pendidikan yang di dukung dua pilar yakni kewibawaan dan kewiyatan.
1.    Kewibawaan
            Kewibawaan merupakan perangkat hubungan antara personal yang mempertautkan peserta didik denganpendidik dalam situasi pendidikan. dengan kewibawaan pendidikmemasuki pribadi peserta didik, dan peserta didik mengarahkan dirinya kepada pendidik. Disanalah terkembangkan pengakuan, penerimaan dan pengangkatan peserta didik oleh pendidik di satu sisi, dan pendidik oleh peserta didik pada sisi lain. Dasar dari pengakuan, penerimaan dan pengangkatan, ini tidak lain adalah HMM(harkat dan martabat manusia) dengan hakikat manusisia,dimensi kemanusiaan, dan panca daya,yang ketiganya tidak saja menjadi landasan, melainkan secara langsung di implementasikan dalam tindakan nyata. Dengan sadar dan arah manifestasinya itu meliputi:
1.    Pengakuan dan penerimaan,
2.    Kasih sayang dan kelembutan,
3.    Penguatan,
4.    Tindakan tegas yang mendidik
5.    Pengarahan dan keteladanan


2.    Kewiyatan
            Merupakan perangkat praktik pembelajaran yang terkait langsung dengan:
a.    Materi pembelajaran yang di turunkan dair tujuan-tujuan pendidikan dan dilaksanakan dengan arah pengembangan panca daya, meliputi; daya taqqwa, daya cipta, daya karsa, daya rasa, dan daya karya.
b.    Pengembangan dan aplikasi metode pembelajaran,
c.    Alat bantu pembelajaran,
d.    Lingkungan pembelajaaran, yang selanjutnya dilengkapi ddengan,
e.    Penilaian hasil pembelajaran.
            kewibawaan dan kewiyatan, proses pembelajaran sedmikian itu meerupakan penerapan pendip(pendidikan dengan ilmu pendidikan) yang memungkinkan memungkinkan dihindarinya kesalahan dan atau kecelakaan pendidikan, baik berupa pelecehan terhadap kemanusiaan peserta didik, hukuman dan pengingkaran atas hak-hak pendidikan peserta didik, maupun rendahnya mutu pembelajaran dan pendidikan pada umumnya beserta hasil-hasilnya.
B.   Tantangan Seorang Guru
            Wahana tentang pendidikan  setiap kali secara kuntal menyangkut dua figure manusia dalam suatu situasi. Hubngan kedua figure itu meerupakan hubngan social yang menampilkan peran kedua pihak dalam posisi tertentu. Satu pihask disebut peserta didik dan pihak lain di sebut pendidik.  Terkait dengan tantangan seorang guru,yang jadi pertanyaan adalah bagaimana sikap seorang guru terhadap peserta didik?. Sudah menjadi kewajiban pendidik untuk menjalin hubungan dengan peserta didiknya dengan baik.  Dalam hal ini, pendidik ibaratnya seorang tukang kebun atau ahli taman. Yang sepenuh hati, sepenuh ilmu dan keterampilan, serta seluruh visi, aksi dan dedikasinya mengusashakan agar kebun, taman atau tanaman yang dipeliharanyaitu tumbuh ke,mbang sesubur-suburnya, seindah-indahnya dan seproduktif mungkin. Sang juru ahli itu akan senang, gembira dan bangga apabila tanamanya itu memperlihatkan wajah yang berseri; dahan, ranting, dan daun yang segar, pucuk-pucuk yang bergairah, bunga-bunga yang mewarna-wani menawan hati, serta buah-buah yang melezatkan cita rasa. Situasi taman yang menyejukkandalam kesegaranya, membahagiakan dalam keindahanya, dan menggairahkan dalam semangat hidupnya tanaman, semuanya itu menjadikan sang juru merasa bahwa usahanya berhasil, bahwa daya upayanya mendapat imbalanyang lebih dari harga setimpal, bahwa ilmu dan keterampilanya tidak sia-sia. Sebaliknya, kalau tanaman yang berada didalam tanggung jawabnya itu tumbuh merana, terseranh hama atau rusak karena tangan jahil atau kondisi alam; daun dan pucuk-pucuknya layu,dahan dan rantinya patah;bunga dan buahnya berguguran ditanah yang kering dan udara yang gersang. Sang juru akan bersedih dan beriba hati, mersa usahanya masih terkendala, ilmu dan keahlianya masih belum membawakan makna yang penuh arti(prof.prayitno, dasar teori praksis pendidikan, 2009: 39).
            Dari peristiwa diatas, sebagai seorang guru, harus selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan, rawat anak didik sepenuh hati, dengan pola pendidikan yang humanis dan berempati.  Berilah anak didik ’pupuk’ terus menerus  dengan menyirami batinya dengan nilai-nilai kebenaran. Berilah mereka contoh perilaku yang baik dan semangat untuk melihat bahwa mereka punya potensi maju yang luar biasa. Jika ingin maju.  Seorang guru juga harus  menjaga anak dengan hati dan doa agar terhindar dari seragan hama. Guru harus yakin, Kalau cara mendidiknya sudah benar, batin siswa harus ditetesi dengan hikmah dan ucapan-ucapan yang penuh makna(yusron aminullah,2011: 81)

























BAB IV
PENUTUP

A.   Kesimpulan
            pada pembahasan di atas telah dijelaskan tentang Permasalah guru harus diselesaikan secara komprehensif yang menyangkut dengan semua aspek yang terkait, yaitu aspek kualifikasi, kualitas, pembinaan, training profesi, perlindungan profesi, manajemen, kesejahteraan guru, dan tersedianya fasilitas yang memadai. Sungguh berat tugas guru, tetapi penghargaan pada profesi guru kurang optimal, tetapi para guru selalu dinilai kinerjanya rendah dan kurang optimal. Perlu ada perhatian yang serius kepada para guru, yaitu mereka harus selalu mendapatkan pelatihan dalam bidang pengetahuan dan keterampilan baru yang diperlukan sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Perlu ada sistem peningkatan pengetahuan bagi guru secara tersistem dan berkelanjutan atau ada inservice training yang baik bagi para guru. Para guru harus siap untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu kinerjanya agar memiliki kompetensi yang optimal dalam usaha membimbing siswa agar siap menghadapi kenyataan hidup (the real life) dan bahkan mampu memberikan contoh tauladan bagi siswa, memiliki pribadi dan penampilan yang menarik, mengesankan dan menjadi dambaan setiap orang.

Rencana pemerintah untuk melakukan sertifikasi guru perlu dihargai sebagai wujud perhatian terhadap nasib guru yang terpinggirkan. Tetapi, pemerintah harus mengikut sertakan guru-guru atau tenaga kependidikan sebagai variabel penting dalam ”badan independen sertifikasi guru” tersebut dan badan tersebut tetap berada dalam Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) atau pemerintah tidak perlu membentuk badan baru untuk melakukan sertifikasi tetapi akan lebih baik jika Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)  atau Universitas Keguruan Eks IKIP diberdayakan untuk melakukan sertifikasi guru.
Lembaga-lembaga kependidikan yang menyelenggarakan program Akta IV sebagai upaya untuk sertifikasi guru, perlu ditingkatkan kualitasnya baik dari sisi profesional penyelenggaraan, kurikulum, metode pembelajaran, sistem penilaian dan manajemennya, sehingga memiliki ”kualifikasi” untuk dapat mendidik para calon guru yang profesional.


B.   Saran
      Kami menyadari bahwasannya penyusun dari makalah ini hanyalah manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, kesempurnaan hanya milik Allah Azza Wa’jala, hingga dalam penulisan dan penyusunannya masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif akan senantiasa penyusun nanti dalam upaya evaluasi diri.
      Akhirnya kami hanya bisa berharap, bahwa dibalik ketidaksempurnaan penulisan dan penyusunan makalah ini adalah ditemukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat atau bahkan hikmah bagi penyusun, pembaca, dan bagi seluruh mahasiswa-mahasiswi Universitas Negeri makassar terutama mahasiswa Program Studi pendidikan teknik elektronika.








                                                    












DAFTAR PUSTAKA

Ciptono Dan Triadi Ganjar, 2009, Guru Luar Biasa, Pt Bentang Pustaka, Yogyakarta

Muliyana az 2010, Rahasia Menjadi Guru Hebat, grasindo, Jakarta

Yusron aminulloh, 2011, Mendset Pembelajaran, nuansa, bandung

Prof. soedjanto, 2008, Landasan Dan Arah Pendidikan Nasional, kompas, Jakarta.

Paul Suparno, 2005, Guru Demokratis di Era Reformasi, Grasindo, Jakarta.
Saleh hamid, 2011, Metode Edu Tainment, diva press, Jakarta

Prayitno, 2009. Dasar Teori Praksis Pendidikan, grasindo, Jakarta.


Hujair AH. Sanaky, 2003, Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat Madani Indonesia, Safiria Insania Press dan MSI, Yogyakarta.

Naniek Setijadi, 2007, Tantangan Profesionalisme Guru Masa Depan, From: http:// tpj.
pkpenabur.or.id/index.php?option=com_content&task=view&id=18&Itemid=27, akses, selasa, 26 April 2007, jam 10.15.

Onno W. Purbo, Tantangan Bagi Pendidikan Indonesia, From:http://www.detik. com/ net/ onno/jurnal/2004/aplikasi/pendidikan/p-19.shtml., akases, 16 Mei 2006.

Hujair Ah, 2007, makalah “Kompetensi Dan Sertifikaasi Guru sebuah pemikiran”

Hujair Ah, 2006,  makalah “Sertifikasi Dan Profesionalisme Guru Di Era Reformasi

Perpustakaan Universitas Indonesia 2009, makalah,  “kajian teori guru”.

“Pendekatanp-Pendekatan Dan Model-Model Pembelajaran Yang Efektif


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
            Dunia pendidikan adalah dunia yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Manusia yang selalu diiringi dengan pendidikan, kehidupannya akan selalu berkembang kearah yang lebih baik.  Tidak  adakehidupan manusia  yang tidak bergerak, dan tidak ada manusiapun yang hidup dalam stagnasi peradaban manusia. Dan semuanya itu bermuara pada pendididkan, karena pendidikan adalah pencetak kehidupan manusia.
            Adanya peerkembangan kehidupan, pendidikan pun mengalami dinamika yang semakin lama semakin berkembang dan berusaha beradaptasi dengan gerak perkembangan yang dinamis tersebut. Itulah sebabnya, pendididkan yang diterapkan pada siswa sekarang  tidak sama dengan pendidikan yang  di lakukan oleh orang tua kita dulu.
            Ada sebuah fenomena yang menarik yang terjadi dikalangan siswa saat sedang belajar disekolah, yang mungkin pernah juga kita alami dulu. Setiap masuk kelas dengan pelajaran yang sulit dan guru yang terkenal  galak, biasanya akan merasa terbebani dan tidak nyaman dalam belajar. Sebaliknya, saat mendengar bahwa guru sedang rapat, berhalangan hadir, sedang sakit, atau saat ada pembatalan ujian, maka mereka akan berteiak kegirangan dan bersorak-sorai. Hal tesebut tentu membuat kita menjadi miris dan menyayangkanya.
            Maka dari itu kita membutuhkan inovasi pembelajaran agar siswa menjadi bersemangat, mempunyai motivasi untuk belajar. Hal ini dapat dijadikan sebagai terobosan yang patut dihargai dan diujicobakan.
            Pada dasarnya sekolah tidak hanya untuk mencari nilai, skor, peingkat atau semacamnya, akan tetapi merupakan sarana belajar untuk  kehidupan. Inti dari pendidikan dikelas adalah bagaimana paara siswa bisa bersemangat, antusias, dan berbahagia dalam mengikuti pelajaran dikelas,bukanya terbebani dan menjadikan pelajaran dikelas sebagai momok yang menakutkan. Dengan begitu siswa bisa  mendapatkan pengetahuan dengan baik.
            Dengan penjelasan diatas  menarik buat penulis untuk membuat makalah dengan judul “Pendekatanp-Pendekatan Dan Model-Model Pembelajaran Yang Efektif”.
1.2  Tujuan
            Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan macam-macam pendekatan pembelajaran untuk peserta didik, sehingga dapat mempermudah seorang guru dalam proses pembelajaran kepada siswanya begitupula kepada anak didik dapat menyerap materi dengan baik.


















BAB II
PEMBAHASAN

            Jika anda benar-benar melakukan hal-hal yang baik, maka persejatailah diri anda dengan lebih banyak bukti dari pada yang anda kira anda perlukan (win wenger, 2011:168). Metode dan teknik mempunyai tujuan yang sama namun pengertianya berbeda. Metode adalah jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan, sedangkan teknik adalah cara mengerjakan sesuatu.metode mempunyai pengertian yang lebih luas,ideal dan lebih konseptual di bandingkan teknik (muh. Saleh hamid, 2011:20). Mengutip pernyataan diatas maka semestinya pendekatan yang harusnya diterapkan dalam pendidikan kita adalah dengan memvariasikan proses pembelajaran dengan beberapa pendekatan dengan beberapa meetode dan teknik yang berbeda namun disatukan dalm satu proses pembelajaran. Sehingga siswa dapat merasakan kesenangan tersendiri dalam proses pembelajaran. Di bawah ini penulis akan mencoba membahas beberapa jenis pendekatan dan metode yang tepat dalam pembelajaran.
A.   Jenis-Jenis Pendekatan Pembelajaran
            Menurut ahli pendidikan modern, belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau peerubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah yang baru berkat pengalaman dan latihan. Emest R. hilgard dalam buku theories of learning memberikan batasan pengertian belajar, ia menyatakan bahwa learning is a process by an activity originates or changed through training procedures (whether is the laboratory or in the natural environment) as distinguished from changes by factor not attribute able to training.  Sehingga dapat disimpulkan bahwa inti pembelajaran itu sebagai suatu proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan lingkunganya.
Untuk menghasilkan pembelajaran yang evektif sebaiknya kita memahami kondisi siswa yang akan kita hadapi.
1.    Pendekatan behavioristik
            Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau input yaitu berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi diantara stimulus dan respons itu dianggap tidak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati. Hasil belajar adalah hal yang sangat menentukan apakah seseorang dikatakan berhasil atau malah sebaliknya yaitu gagal. Hal ini tanpa melihat proses untuk memperoleh hasil belajar itu sendiri.
2.    Pendekatan kognitif
            Menjelang berakhirnya tahun 1950-an banyak kritik yang muncul terhadap behaviorisme. Kognitivisme tidak seluruhnya menolak gagasan behaviorisme, namun lebih cenderung pada perluasannya. Pakar psikologi kognitif modern berpendapat bahwa belajar melibatkan proses mental yang kompleks, termasuk memori, perhatian, bahasa, pembentukan konsep, dan pemecahan masalah.
*      Beberapa tokoh yang berperan dalam teori belajar ini adalah:
-          Tollman yang menunjukkan bahwa belajar adalah lebih dari sekedar               memperkuat respon melalui penguatan
-          Jerome Bruner yang memiliki gagasan berdasarkan kategorisasi “memahami adalah kategorisasi, konseptualisasi adalah kategorisasi, belajar adalah membentuk kategori-kategori, membuat keputusan adalah kategorisasi.”
-          Noam Chomsky yang berpendapat bahwa otak manusia memiliki “hardware” untuk bahasa sebagai hasil dari evolusi
-          Piaget yang memiliki asumsi dasar kecerdasan manusia dan biologi organism berfungsi dengan cara yang sama. Keduanya adalah sistem terorganisasi yang secara konstan berinteraksi dengan lingkungan
-          Vygotsky yang berpendapat bahwa ada perbedaan antara konsep dan bahasa ketika seseorang masih belia, tetapi seiring berjalannya waktu keduanya akan menyatu. Bahasa mengekspresikan konsep, dan konsep digunakan dalam bahasa.
3.    Pendekatan konstruktif
            Apabila Behaviorisme dan kognitivisme memandang pengetahuan sebagai suatu yang eksternal dan proses belajar sebagai kegiatan internalisasi pengetahuan maka konstruktivisme beranggapan bahwa pebelajar bukanlah bejana yang kosong untuk selanjutnya diisi dengan pengetahuan. Melainkan, pebelajar adalah organisme aktif yang berusaha menciptakan makna. Pebelajar memilih cara belajarnya sendiri. (Driscoll: 2000)
            Berikut ini akan dikemukakan ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis menurut beberapa literatur yaitu :
1)    Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah ada sebelumnya
2)    Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang dunia
3)    Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna dikembangkan berdasarkan pengalaman
4)    Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan (negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain
5)    Belajar harus disituasikan dalam latar (setting) yang realistik, penilaian harus terintegrasi dengan tugas dan bukan merupakan kegiatan yang terpisah. (Yuleilawati, 2004 :54)
Sedangkan menurut Siroj (http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/43/rusdy-a-siroj.htm) ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis adalah :
1)    Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.
2)    Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.
3)    Mengintegrasikan pembelajaran dengan situasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.
4)    Mengintegrasikan pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi sosial yaitu terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru, dan siswa-siswa.
5)    Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.
6)    Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga menjadi menarik dan siswa mau belajar.

4.    Pendekatan holistic
            Adalah pendekatan yang memandang bahwa kepribadian individu terdiri dari banyak unsure yakni:intelek, emosi, dorongan motivasi dan imajinasi(claird, 1995).
            Beberapa tokoh klasik perintis pendidikan holistik, diantaranya : Jean Rousseau, Ralph Waldo Emerson, Henry Thoreau, Bronson Alcott, Johann Pestalozzi, Friedrich Froebel dan Francisco Ferrer. Berikutnya, kita mencatat beberapa tokoh lainnya yang dianggap sebagai pendukung pendidikan holistik, adalah : Rudolf Steiner, Maria Montessori, Francis Parker, John Dewey, John Caldwell Holt, George Dennison Kieran Egan, Howard Gardner, Jiddu Krishnamurti, Carl Jung, Abraham Maslow, Carl Rogers, Paul Goodman, Ivan Illich, dan Paulo Freire.
            Tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya (Basil Bernstein).
5.    Pendekatan ilmiah
            Yaitu pendekatan yang beranggapan bahwa transformasi subtansi pembelajaran dan pemecahan masalah pendidikan menggunakan acuan kerja yang di anut dalam dunia ilmu.
6.    Pendekatan humanis
            Humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul tahun 1950an sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psikoanalisis. Aliran ini secara eksplisit memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan teori psikologis. Permasalah ini dirangkum dalam lima postulat Psikologi Humanistik dari James Bugental (1964), sebagai berikut:
  1. Manusia tidak bisa direduksi menjadi komponen-komponen.
  2. Manusia memiliki konteks yang unik di dalam dirinya.
  3. Kesadaran manusia menyertakan kesadaran akan diri dalam konteks orang lain.
  4. Manusia mempunyai pilihan-pilihan dan tanggung jawab.
  5. Manusia bersifat intensional, mereka mencari makna, nilai, dan memiliki kreativitas.
            Pendekatan humanistik ini mempunyai akar pada pemikiran eksistensialisme dengan tokoh-tokohnya seperti Kierkegaard, Nietzsche, Heidegger, dan Sartre.
7.    Pendekatan motivasional
            Adalah pendekatan yang menekankan teori harapan dan nilai yang merupakan produk dari dua kekuatan utama yakni: harapan individu untuk mencapai tujuan dan nilai tujuan bagi individu. Mengobarkan motivasi belajar dalam diri siswa (motivasi intrinsik) dapat dilakukan oleh seorang guru yang mempunyai kesabaran. Setiap siswa adalah individu yang unik, yang mempunyai tingkat kemampuan, minat, dan bakat yang berbeda-beda, baik dalam hal intensitas maupun arah. Guru yang mempunyai tingkat kesabaran tinggi akan dapat menunjukkan kepada siswa-siswanya bahwa semua orang mampu mempelajari sesuatu (termasuk materi ajar di kelas), walaupun dengan alokasi waktu dan upaya yang berbeda-beda.
*      Di atas adalah  pendekatan dasar dan merupakan dasar teori pendidkan yang dianut dalam pendidikan, kemudian penulis dibawah ini akan menambahkan beberapa teori sebagai pelengkap untuk mendapatkan proses belajar mengajar yang evektif.

a.    Pendekatan Konsep
            Pada pendekatan model ini siswa dibimbing memahami suatu bahasan dengan memahami konsep-konsep yang terkandung didalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan sub konsep yang menjadi sasaran utama pembelajaran. Pendekatan ini kurang memperhatikan aspek student centre. Guru terlalu dominan dan siswa membimbing untuk memahami konsep.
b.    Pendekatan Lingkungan
            Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan dalam suatu proses belajar mengajar. Lingkungan digunakan sebagai sumber belajar. Untuk memahami materi yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sering digunakan pendekatan lingkungan.
c.    Pendekatan Inkuiri
            Melakukan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri berarti membelajarkan siswa untuk mengendalikan situasi yang dihadapi ketika berhubungan dengan dunia fisik, yaitu dengan menggunakan teknik yang digunakan oleh para ahli penelitian (Dettrick, G.W. 2001). Dalam pendekatan inkuiri berarti guru merencanakan situasi sedemikian rupa sehingga siswa didorong untuk menggunakan prosedur yang digunakan para ahli penelitian untuk mengenal masalah, mengajukan pertanyaan, mengemukakan langkah-langkah penelitian, memberikan pemaparan yang lantang, membuat ramalan, dan penjelasan yang menunjang pengalaman.
d.    Pendekatan Proses                  
            Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses atau langkah-langkah ilmiah seperti melakukan pengamatan, menafsirkan data, dan mengkomunikasikan hasil pengamatan.
e.    Pendekatan Interaktif
Dikenal juga sebagai pendekatan pertanyaan anak, memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan pertanyaan untuk kemudian melakukan penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan.
f.     Pendekatan Pemecahan Masalah
            Pendekatan pemecahan masalah berangkat dari masalah yang harus dipecahkan melalui praktikum atau pengamatan. Dalam pendekatan pemecahan masalah ini ada dua versi. Versi yang pertama siswa dapat saja menerima saran tentang prosedur yang digunakan, cara mengumpulkan data, menyusun data, dan menyusun serangkaian pertanyaan yang mengarah ke pemecahan masalah. Dalam versi kedua, hanya masalah yang dimunculkan, siswa yang merancang pemecahannya sendiri. Guru berperan hanya dalam menyediakan bahan dan membantu memberi pentunjuk.
g.    Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM)
            Dalam rangka mewujudkan sekolah sebagai bagian dari masyarakat telah dikembangkan bahan kajian pengajaran sains dalam bentuk Sains, Teknologi, dan Masyarakat (S-T-M) (Depdikbud, 1992). STM ini merupakan peng-Indonesiaan dari Science, Technlogy and Society. Dalam pengajaran sains siswa tidak hanya mempelajari konsep-konsep sains, tetapi juga diperkenalkan pada aspek teknologi, dan bagaimana teknologi itu berperan di masyarakat (Depdikbud, 1992).
h.    Pendekatan Terpadu (Integrated Approach)
            Pendekatan ini merupakan pendekatan yang intinya memadukan dua unsure atau lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran. Unsure pembelajaran yang dipadukan dapat berupa konsep dengan proses, konsep dari satu mata pelajaran dengan konsep mata pelajaran lain, atau dapat juga berupa penggabungan suatu metode dengan metode lain.

B.   Implementasi pendekatan dalam praktis pendidikan
            Metode pembelajaran sangat penting dikuasai oleh seorang guru,Tujuanya untuk menghasilkan proses belajar yang evektif. Dengan metode yang cocok memudahkan siswa untuk menerima materi yang diberikan. Dibawah ini penulis akan coba menjelaskan beberapa metode dalam kaitanya dengan pembelajaran yang evektif.
1.    Metode Ceramah
            Metode ceramah sudah ada sejak adanya pendidikan, metode ini lebih dikenal dengan metode tradisional. Metode ceramah adalah metode penyampaian bahan pelajaran secara lisan. Metode ini banyak dipilih guru karena mudah dilaksanakan dan tidak membutuhkan alat bantu khusus serta tidak perlu merancang kegiatan siswa.
*      Kelebihan Dan Kekurangan Metode Ceramah
            Adapun kelebihan dari metode ceramah adalah:
1.    Guru mudah menguasai kelas
2.    Mudah dilaksanakan
3.    Dapat diikuti oleh siswa dalam jumlah besar;dan
4.    Guru dapat menerangkan banyak bahan pelajaran kepada siswa.
            Sedangkan kekurangan dari metode ceramah adalah:
1.    Siswa yang lebih tanggap dari sisi visual akan merasa dirugikan,sedangkan siswa yang lebih tanggap terhadap kemampuan auditnya,akan mendapatkan manfaat yang lebih besardari metode ini.
2.    Bila terlalu lama, metode ini membuat siswa merasa bosan
3.    Sukar untuk mengontrol sejauh mana pemerolehan belajar siswa
4.    Menyebabkan siswa menjadi pasif.

2.    Metode proyek
            Metode proyek adalah suatu cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan unit-unit kehidupan sehari-hari sebagai bahan pelajaranya. Tujuanya adalah agar siswa teertarik untuk belajar.
*      Kelebihan Dan Kekurangan Metode Proyek
            Berikut adalah beberapa kelebihan dari metode proyek:
1.    Dapat merobak pola pikir siswa daari sempit menjadi luas.
2.    Siswa dibina untuk mebiasakan diri mennerapkan pengetahuan, sikap dan keterampilan secara terpadu.
            Sedangkan kekurangan dari metode ini adalah:
1.    Kurikulum yang digunakan dinegeri kita ini belum menunjangpelaksanaan meetode ini baik secar vertical maupun horizontal.
2.    Organisasi bahan pelajaran, perencanaan dan pelaksanaan metode ini sukar,harus memerlukan keahlian khusus dari seorang guru.
3.    Harus dapat memilih topik yang tetapsesuai kebutuhan siswa.
4.    Bahan pelajaran sering menjadi luas, sehingga dapat menggabungkan pokok unit yang di bahas.

3.    Metode latihan
Metode latihan atu drill juga bisa disebut dngan metode training. Metode ini merupakan metode yang digunakan guru untuk mengajar dalam upaya menanamkan berbagai kebiasaan atau keterampalan tertentu kepada siswa. Dengan begitu mereka akan menguasai keterampilan atau kebiasaan baru, sebagai bekal dalam kehidupan mereka kelak.
*      Kelebihan dan kekurangan
            Adapun kelebihan dari metode ini adalah :
1.    Siswa dapat memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat.
2.    Siswa dapaat memperoleh kecakapan mental,missal dalam perkalian, penjumlahan, pengurangn  dll.
3.    Siswa dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan ataupun kecepatan dalam pelaksanaan.
            Adapun kekurangan dari metode ini adalah:
1.    Menghambat bakat dan inisiatif siswa
2.    Menimbulkan penyesuaian secara statis
3.    Membosankan
4.    Datpat menimbulkan veerbalisme

4.    Metode Diskusi
            Metode diskusi adalah cara pembelajaran dengan memunculkan masalah. Metode diskusi ini sering dipertukarkan dalam penggunaannya dengan metode tanya jawab. Dalam diskusi dapat saja muncul pertanyaan, tetapi pertanyaan tersebut tidak direncanakan terlebih dahulu. Dalam diskusi terjadi menukar gagasan atau pendapat untuk memperoleh kesamaan pendapat.
*      Kelebihan dan kekurangan meetode diskusi
            Adapun kelebihan dari metodde ini adalah:
2.    Menyadarkan kepada siswa bahwa pemecahan masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan.
3.    Siswa saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga mendapatkan keputusan yang lebih baik.
4.    Membiasakan siswa untuk menddengarkan pendapat orang lain. Dalam artian terjadi sikap toleransi.
            Sedangkan kekurangannya adalah:
1.    Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar.
2.    Peserta diskusi mendapatkan informasi yang terbatas.
3.    Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
4.    Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal.

5.    Metode Demonstrasi
            Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Peragaan suatu proses dapat dilakukan oleh guru sendiri atau dibantu beberapa siswa, dapat pula dilakukan oleh sekelompok siswa. Metode ini dapat membantu pelajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkrit, sehingga diharapkan siswa menjadi lebih mudah memahami.

6.    Metode Karyawisata/Widyawisata
            Metode karyawisata/widyawisata adalah cara penyajian dengan membawa siswa mempelajari materi pelajaran di luar kelas. Widyawisata ini suatu kunjungan yang direncanakan kepada suatu objek tertentu untuk dipelajari atau untuk memperoleh informasi yang diperlukan.
            Karyawisata dapat dilakukan di sekitar sekolah atau ditempat lain. Kegiatan belajar di luar kelas ini mungkin dipimpin oleh guru sendiri, atau oleh pembimbing lain seperti petugas lapangan di kebun raya, museum, dan sebagainya.

7.    Metode Pemberian Tugas Dan Pembacaan (Recitation)
            Dalam konteks ini, guru memberikan suatu tugas kepada siswa dan mengaitkannya dengan tugas-tugas yang lain.seperti seorang guru menyruh siswa untuk mencari dan membaca satu buku dan mmbaca buku lain sebagai pembandingnya.
*      Kelebihan dan kekurangan
      Adapun kelebihan daari metode ini adalah:
1.    Pengetahuan yang diperoleh siswa dari hasil belajar sendiri akan diingat lebih lama.
2.    Siswa beerkesempatan untuk memupuk perkembangan dalam mengambil inisiatif dan bertanggung jawab.
            Sedangkan kekuranganya aadalah:
1.    Sering kali siswa melakukan penipuan , dengan menyontek pekerjaan teman kelasnya.
2.    Terkadang tugas ini dikerjakan oleh orang lain tanpa pengawasan.


8.    Metode Eksperimen
            Metode eksperimen adalah metode pembeerian kessempatan kepad siswa, baik secara perorangan ataupun kelompok, untuk dilatih melakukan suatu percobaan. Dengan meetodde ini diharapkan ia dapat menemukan fakta, mengumpulkan data, dan melakukan eksperimen dan memecahkan masalah yang dihadapinya secara nyata.
*      Kelebihan dan kekurangan metode eksperimen
            Adapun beberapa kelebihan dari metode ini adalah sebagai berikut:
1.    Siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaanya.
2.    Siswa dapat mengembangkan studi untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) ilmu dan teknologi.
3.    Siswa dapat membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan yang didapatinya.
            Beberapa kelemahan dari metodde ini adalah:
1.    Kurangnya sarana dan prasarana untuk bereksperimen
2.    Jika eksperimen membutuhkan waktu yang lama maka siswa harus menanti untuk melanjutkan pelajaran
3.    Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu dan teknologi.










BAB III
PENUTUP
A.   kesimpulan
            Sekolah pertama kali diciptakan, bukan dengan tujuan mendatangkan pelajar atau pembelajar, tapi bertujuan untuk mengumpulkan pendengar atau audiens. Begitu banyak pendekatan dan model pembelajaran yang dapat kita gunakan, dalam proses pembelajaran. Ragam metode dan model mengajar dapat memberi keleluasaan kepada seorang guru untuk menggunakan variasi dalam mengajar. Hal ini digunakan untuk merangsang minat siswa terhadap materi yang diberikan.
            Salah seorang pendidik terkenal,  Jerome S. Bruner, mengatakan bahwa anda dapat dapat mengajarkan suatu gagasan atau konsep kepada siapa saja, pada tingkat usia mana saja asalkan anda bisa menjelaskan itu dengan dengan kosa kata konseptualnya masing-masing. Artinya, memakai istilah yang telah dipahami dan sering digunakan oleh mereka.(Win Wenger, 2011:62). Mengutip penjelasan diatas maka dalam proses pembelajaran penyampaian materi harus kita sesuaikan dengan bahasa keseharian yang di pahami oleh siswa, sehingga siswa dapat dengan mudah memahami materi yang kita berikan. Pada dasarnya pembelajaran yang evektif adalah pembelajaran yang menggabungkan beberapa model pembelajaran dengan menjadikan suasana kelas yangaman sejuk, dan bisa mengajak siswa untuk merasakan ketenangan, kesenangan, namun tetap focus dengan materi yang disampaikan.  Pendekatan-pendekatan yang telah dijelaskan pada makalah ini merupakan hal-hal yang harus diperhatikan oleh kita sebagai calon pendidik. Tinggal bagaimana kita memadukan beberapa cara untuk pembelajaran yang kita inginkan
B.   saran
            penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Penulis bukanlah manusia yang sempurna, melainkan seorang manusia biasa Dialah Allah yang memilikii segala kesempurnaan. Harapan penulis agar diberikan saran dan kritikan yang membangun, demi perbaikan selanjutnya. Mudah-mudahan makalah ini membawa manfaat bagi kita semua dan menjadi amal ibadah yang akan dibalas oleh Allah SWT. Amin.....

DAFTAR PUSTAKA

Shaleh hamid, moh.2011. Metode edutainment. Yogyakarta : diva press
Wenger win. 2011. Beyond teaching & learning : bandung:nuansa
Asril zainal . 2010. Micro teaching : jakarta:pt raja grafindo persada
Sudjana, d. (2000). Strategi pembelajaran. Bandung : falah production.
Yamin, moh. 2009. Menggugat pendidikan indonesia; belajar dari paulo
Fereira dan kihajar dewantara. Yogyakarta: ar-ruzz media

Sanjaya, w. 2007. Strategi pembelajaran, berorientasi standar proses pendidikan. Penerbit kencana prenada media group: jakarta.


Sumber makalah:

Hatimah, “ makalah ilmu pendidikan tentan metode-metode pembelajaran”
Khairil,: implementasi model konstruktivisme dalam pembelajaran” :2009
Tanpa nama, “pendekatan pembelajaran”


Sumber  artikel:

Suhadi,”motifasi belajar menggunakan pendekatan belajar tuntas”, 2009
Akhmad sudrajat”strategi, teknik, dan model pembelajaran”, 2008
Akhmad sudrajat”tentang Pendidikan holistic”, 2008
Tanpa nama, “teori perkembangan cognitive”








 

tv online

Widget TV Online Mivo TV Online